Selasa, 07 Agustus 2012

Orientasi Supervisi Pendidikan




BAB  I
PENDAHULUAN

Guru memiliki peran yang sangat besar, besarnya tanggung jawab guru dalam pendidikan merupakan tantangan bila dikaitkan dengan mutu pendidikan dewasa kini. Keluhan masyarakat terhadap merosotnya mutu pendidikan seharusnya dapat menjadi refleksi bagi para guru yang tidak kompeten dan profesional. Guru profesional bukan hanya sekedar dapat menguasai materi dan berbagai alat untuk transmisi kebudayaan tetapi dapat mentransformasikan pengetahuan, nilai dan kebudayaan kearah yang dinamis yang menuntut produktifitas yang tinggi dan kualitas karya yang dapat bersaing.
Guru-guru perlu ditingkatkan kompetensinya agar martabat guru tidak lagi dilecehkan.Kompetensi guru yang perlu ditingkatkan adalah kompetensi pedagogik, sosial, profesional dan kepribadian.Usaha meningkatkan kompetensi guru tersebut perlu secara terus-menerus mendapatkan perhatian dari penanggung jawab sistem pendidikan.Salah satu unsur penanggung jawab sistem pendidikan itu adalah supervisor.[1]
Dalam konteks ini sebenarnya guru yang kurang profesional sangat membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang lain atau supervisor dalam memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi untuk mencapai tujuan pendidikan, misalnya seperti masalah kurang pahamnya tujuan pendidikan, tujuan kulikuler, serta tujuan instruksional dan oprasional. Sehingga peran guru yang sangat besar dalam meningkatkan mutu pendidikan akan dapat tercapai jika semua permasalahan yang dihadapi oleh para guru dapat dipecahkan dengan baik. Dan seorang yang di sebut supervisor yang mempunyai fungsi sebagai pembimbing, mengarahkan, membantu dalam hal ini adalah Kepala Sekolah (supervisor) yang setiap hari langsung berhadapan dengan guru.[2]

Supervisi merupakan salah satu fungsi kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru dalam melaksanakan pengajaran. Sehubungan dengan pentingnya aktifitas supervisi sekoalah yang berkaitan dengan peningkatan kualitas guru pada khususnya dan peningkatan mutu pendidikan pada umumnya, maka dalam penulisan makalah ini akan dibahas seputar aktivitas supervisi pendidikan atau sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas mutu pendidikan Indonesia.[3]
















BAB  II
MACAM-MACAM ORIENTASI SUPERVISI

A. PENGERTIAN SUPERVISI
Kata supervisi berasal dari bahasa Inggris yang berarti ‘pegawasan’.Dari kata ini muncul kata supervisor yang artinya adalah ‘pengawas’. Dalam kaitannya dengan sekolah, muncul kata ‘school supervisor’ yang artinya ‘pengawas sekolah’ dalam hal ini adalah guru dan kepala sekolah. Dalam kamus besar bahasa Indonesia supervisi diartikan sebagai pengawasan utama, atau pengontrolan tertinggi. Sedangkan supervisi dibidang pendidikan adalah : suatu proses pembimbingan dari pihak yang berkompeten kepada dewan guru dan anggota sekolah lainnya yang menangani pendidikan di sekolah untuk memperbaiki situasi belajar mengajar dapat meningkat.[4]
Program supervisi bertumpu pada suatu prinsip yang mengakui bahwa setiap manusia itu sudah mempunyai potensi yang dapat dikembangkan.Menurut H. Burton dan Leo J. Brucker, Supervisi adalah teknik pelayanan yang tujuannya mempelajari dan memperbaiki secara bersama faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Maka dari uraian definisi-definisi tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa fungsi dari supervise adalah memajukan dan mengembangkan pengajaran sehingga proses belajar mengajar yang di lakukan oleh seorang guru berlangsung dengan baik dan efektif.[5]

Dengan demikian hakekat supervisi adalah suatu aktivitas proses pembimbingan dari pihak atasan kepada para guru dan para personalia sekolah lainnya yang langsung menangani belajar para peserta didik, untuk memperbaiki situasi belajar mengajar agar para peserta didik dapat belajar secara efektif dan efisien dengan prestasi dan mutu belajar yang semakin meningkat. Sedangkan yang melakukan aktivitas supervisi disekolah tersebut adalah kepala sekolah (supervisor).

Nilai supervisi ini terletak pada perkembangan dan perbaikan situasi belajar mengajar yang direfleksikan pada perkembangan yang tercapai oleh peserta didik.Dan istilah pembimbingan di atas cenderung mengacu kepada usaha yang bersifat demokratis atau manusiawi yang tidak bersifat otoriter.Memperbaiki situasi bekerja belajar mengajar secara efektif dan efisien tergantung makna didalamnya, bekerja dan belajar secara berdisiplin, bertanggung jawab, dan memenuhi akuntabilitas.[6]

B.Fungsi dan Tujuan Supervisi Pendidikan

Supervisor akan berfungsi, bila supervisor dipandang sebagai bagian atau organ dari organisasi sekolah. Dan bila dipandang sebagai sesuatu yang ingin dicapai supervisi, maka hal itu merupakan tujuan dari supervisi. Maka fungsi dan tujuan supervisi sangat berhubungan dengan erat, dan keduanya menyangkut hal yang sama.

Fungsi supervisi dapat dibedakan menjadi dua bagian besar antara lain:
a.    Fungsi utama ialah membantu sekolah yang sekaligus mewakili pemerintah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yaitu membantu mengembangkan potensi individu peserta didik.
b.    Fungsi tambahan ialah membantu sekolah dalam membina para guru dan staf personalia agar ingin bekerja dan mengajar dengan baik dan dalam mengadakan kontak dengan masyarakat dalam rangka menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat serta mempelopori kemajuan masyarakat sekitar.[7]
Sedangkan tujuan supervisi ialah memperkembangkan situasi belajar dan belajar yang lebih baik dan efektif.Usaha perbaikan belajar dan mengajar ditujukan pada pencapaian tujuan akhir dari pendidikan yaitu, pembentukan pribadi anak yang utuh dan maksimal.[8]

C.  ORIENTASI  SUPERVISI

Adapun teknik yang diterapkan dalam memberikan supervisi kepada guru dapat dilakukan dengan beberap pendekatan, diantara yaitu : Pendekatan langsung (direktif), Pendekatan tidak langsung (non direktif), dan pendekatan kolaboratif.

a. Teknik pendekatan langsung (direktif)
Pendekatan langsung (directif) maksudnya adalah pendekatan terhadap masalah dengan cara langsung. Pendekatan direktif ini berdasarkan pada pemahaman terhadap psikologi behaviorisme yang dalam prinsipnya menyatakan bahwa segala perbuatan berasal dari refleks yaitu respon terhadap rangsangan ataustimulus.Oleh karena itu guru yang mengalami kekurangan, perlu diberikan rangsanganagar dia dapat bereaksi. Seorang supervisor dapat menggunakan : Penguatan (reinforcement) atau hukuman (punishment).
Perilaku supervisor dilakukan secara bertahap, mulai dari percakapan awal sampai dengan percakapan akhir setelah dikemukakan permasalahan yang diperolehmelalui observasi dan interview dengan guru.[9]

Supervisor atau kepala sekolah mengadakan supervisi secara langsung, prinsip yang dilakukan adalah: menjelaskan, menyajikan, mengarahkan, memberi contoh dan menguatkan.

Teknik secara langsung ini bisa bersifat:
1.                 Individual, seperti kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, intervensi, menyeleksi berbagai sumber yang digunakan untuk mengajar dan melihat cara dan hasil evaluasi.
2.                 Kelompok, yaitu pendekatan yang dapat dilakukan dengan bentuk-bentuk rapat guru, panitia penyelenggaraan kegiatan sekolah, studi kelompok guru, dan workshop.[10]

Biasanya pendekatan ini diterapkan pada guru-guru yang kurang bermutu atau acuh tak acuh.

b. Teknik pendekatan tidak langsung (non direktif)
Teknik supervisi tidak langsung adalah pendekatan masalah pengajaran yang sifatnya tidak langsung menunjukan permasalahan, melainkan seorang guru bercerita mengemukakan permasalahan yang mereka alami.

Pendekatan non-direktif ini berdasarkan pada pemahaman psikologi humanistik yang dalam prinsipnya menyatakan bahwa orang yang akan dibantu itu sangat dihargai. Oleh karena itu pribadi guru yang dibina begitu dihormati, sehingga supervisor lebih banyak mendengarkan permasalahan yang dihadapi oleh guru dan mencoba mendengarkan serta memahami apa yang di alami guru-guru. Perilaku supervisor dalam pendekatan non-direktif adalah sebagai berikut : Mendengarkan, memberikan penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan

Supervisor atau kepala sekolah menyimpulkan permasalahan guru tersebut kemudian memberi bimbingan dan mengarahkan.[11]
Biasanya pendekatan ini diterapkan pada guru-guru yang profesional.

c. Teknik pendekatan kolaboratif
Pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatandirektif dengan pendekatan non-direktif menjadi cara pendekatan baru. Pada pendekatanini, supervisor dan guru bersama-sama dan bersepakat untuk menetapkan struktur, prosesdan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi olehguru.

Pendekatan kolaboratif didasarkan pada psikologi kognitif yang dalam prinsipnyamenyatakan bahwa belajar adalah hasil paduan antara kegiatan individu denganlingkungan, yang pada gilirannya nanti akan berpengaruh dalam pembentukan aktivitasindividu. Dengan demikian, pendekatan dalam supervisi berhubungan pada dua arah yaitudari arah atas ke bawah (top down)dan dari arah bawah ke atas(bottom up).[12]

Perilaku supervisor dalam pendekatan kolaboratif adalah sebagai berikut: Menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan permasalahan, dan negosiasi.
Perilaku supervisor dilakukan secara bertahap, mulai dari pertanyaan awal sampai denganmengemukakan permasalahan yang kemudian dinegosiasi bersama-sama dan dicari pemecahan permasalahannya.[13]

Biasanya pendekatan ini diterapkan pada guru-guru yang tukang kritik dan guru yang terlalu sibuk.






D.  ORIENTASI LAINNYA
            Selain ketiga orientasi diatas, ternyata masih terdapat beberapa pendekatan-pendekatan lain yang dapat dipergunakan dalam penerapan supervisi pendidikan, diantara adalah :

a.       Pendekatan Agama.
Pendekatan agama adalah cara pendekatan dengan menggunakan prinsip-prinsip keagamaan (islam), dimana seorang supervisor dalam melaksanakan tugas supervisinya memasukkan nilai-nilai agama, sehingga solusi atas masalah yang dihadapi atau akan dipecahkan didasarkan pula dengan konsep agama.

Sebagai contoh, pada masa Rosululloh SAW, beliau memberikan kesempatan kepada para sahabat beliau untuk melakukan ijtihad dan beliau menghargai usaha tersebut.
Hal tersebut diatas, salah satunya terlihat dalam peristiwa Perang Badar, beliau menerima usul dari sahabat yang bernama Habbab bin Munzir, dimana ia mengusulkan penempatan pasukan dan tentang para tawanan perang badar.[14]

b.      Pendekatan Non formal.
Pendekatan non-formal merupakan tekhnik pendekatan yang dilakukan oleh supervisor kepada para guru dengan menggunakan cara-cara yang tidak resmi atau formal.Cara-cara yang formal terkadang membuat suasana menjadi kaku dan tegang, sehingga terkadang pesan yang ingin disampaikan tidak menghasilkan tujuan yang maksimal. Oleh karena dengan pendekatan ini guru merasa lebih rileks sehingga apa yang diharapkan oleh supervisor kepada dirinya dapat terwujud.
BAB  III
KESIMPULAN


Dari uraian diatas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa supervisi mempunyai tujuan yang jelas dan sangat baik yaitu membimbing dan membantu kesulitan para guru dalam mengarajar dan belajar agar dapat tercapainya tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien pada khusunya dan peningkatan kualitas mutu pendidikan pada umumnya.Dan dalam pelaksanan supervisi maka harus berpengang teguh pada prinsip-prinsip yang sudah ditentukan.

Dalam melaksanakan tugasnya, supervisor dapat menggunkan beberapa metode pendekatan, antara lain yaitu : Pendekatan Langsung (directif), Pendekatan tidak langsung (non-directif), Pendekatan Kolaboratif, Pendekatan Keagamaan dan Pendekatan Non-formal.
           
Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah sebaiknya tidak hanya kepada para guru saja, namu hendaknya kepada seluruh elemen sekolah yang disertai tugas-tugas tertentu seperti bagian, administrasi tata usaha, perpustakaan, laboratorium, ekstra kurikuler dan bagian tugas lainnya. Sehingga dalam kenyataannya supervisi tidak hanya dijadikan sesuatu aktifitas kelengkapan atau penyempurnaan struktural oraganisasi sekolah.









[1]Tilaar, H.A.R, Memebenahi Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 88

[2] Ibid,. h. 42

[3]Piet. A. Sahertian dan Frans Mataheru, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya: USAHA NASIONAL, 1981), h. 18

[4]Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta: PT BINA AKSARA, 1988), h. 39

[5]Ibid,. h. 44
[6]Op cit,.Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto, h. 56

[7]Piet. A. Sahertian dan Frans Mataheru, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya: USAHA NASIONAL, 1981), hlm. 18

[8]Ibid, h. 32
[9]Yurnalis Etek, Supervisi Akademik dan Evaluasi Pengajaran, ( Jakarta : Transmisi Media, 2008), h. 39.

[10]Ibid,. h. 40
[11]Ibid,. h. 41
[12]Op cit.Yurnalis Etek,  h. 42
[13] Ibid. 43
[14]Ibid. h. 43

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar